makalah pertentangan sosial dan integrasi masyarakat
PertentanganSosial dan Integrasi Masyarakat By MrTevos. 5:48 PM 0 coment. Kata Integritas berasal dari bahasa inggris yaitu Integration yang artinya kesempurnaan atau keseluruhan.. dan Integrasi dimakna sebagai "proses penyesuaian antara unsur - unsur yang saling berbeda , dalam masyarakat sehingga menghasilkan pola hidup yang
Mengulastentang Pertentangan Sosial dan Integrasi Masyarakat 1. Perbedaan Kepentingan 2. Pengertian Diskriminasi 3. Pengertian Ethosentris 4. Pertentangan dan Ketegangan dalam Masyarakat 5. Golongan-golongan yang berbeda dan Integrasi Sosial 6. Integrasi Nasional 1.4 TUJUAN PERMASALAHAN 1. Agar dapat mengetahui Perbedaan Kepentingan 2.
Pertentangan SosialMenurut beberapa penelitian, pertentangan sosial sering kita temui di dalam kehidupan bermasyarakat. Dikarenakan perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok yang satu dengan individu atau kelompok yang lainnya. Misalnya saja tawuran, perilaku tersebut sangat sering terjadi dikalangin pelajar maupun warga masyarakat. Biasanya didasari oleh perbedaan kepentingan dan keinginan individu atau kelompok untuk menguasai hal-hal tertentu. Konflik mengandung pengertian tingkah laku yang lebih luas daripada yang biasa dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar. Terdapat tiga elemen dasar yang merupakan ciri dasar dari suatu konflik, yaitu Terdapatnya dua atau lebih unit-unit atau baigan-bagianyang terlibat didalam konflikUnit-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang tajam dalam kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan, masalah-masalah, nilai-nilai, sikap-sikap, maupun gagasan-gagasanTerdapatnya interaksi di antara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan-perbedaan tersebut. Sebagai makhluk sosial pastinya kita saling membutuhkan satu sama lainnya. Mulai itu dari lingkup yang terkecil yaitu keluarga sampai dengan lingkup yang terbesar masyarakat. Meskipun kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan, namun sering kali juga terjadi pertentangan sosial. Dimana pertentangan sosial disini adalah disebabkan karena adanya koflik-konflik antar dua orang atau lebih masyarakat. Konflik juga bisa disebut dengan perbedaan pendapat, merupakan pokok permasalahan terjadinya suatu pertentangan sosial. Karena tanpa adanya konflik tidak akan pernah terjadi pertentangan. Dan diantara penyebab terjadinya konflik adalah karena 1. Perbedaan ras 2. Perbedaan suku bangsa dan negara 3. Perbedaan norma/aturan yang berlaku di daerahnya 4. Perbedaan tujuan/kepentingan individu/kelompok 5. Perbedaan Adat dan perilaku Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok ingroup yang mengalami konflik dengan kelompok hubungan antar kelompok yang kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga harta benda dan hilangnya jiwa bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik. Konflik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengan kebencian atau permusuhan, konflik dapat terjadi pada lingkungan diri sendiri, kelompok, dan taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk kepada adanya pertentangan, ketidakpastian, atau emosi emosi dan dorongan yang antagonistic didalam diri seseorangPada taraf kelompok, konflik ditimbulkan dari konflik yang terjadi dalam diri individu, dari perbedaan-perbedaan pada para anggota kelompok dalam tujuan-tujuan, nilai-nilai, dan norma-norma, motivasi-motivasi mereka untuk menjadi anggota kelompok, serta minat taraf masyarakat, konflik juga bersumber pada perbedaan di antara nilai-nilai dan norma-norma kelompok dengan nilai-nilai an norma-norma kelompok yang bersangkutan dalam nilai, tujuan dan norma serta minat, disebabkan oleh adanya perbedaan pengalaman hidup dan sumber-sumber sosio-ekonomis didalam suatu kebudayaan tertentu dengan yang aa dalam kebudayaan-kebudayaan lain. Adapun cara pemecahan konflik tersebut 1 2 3 4 5 Lihat Sosbud Selengkapnya
Dalammakalah ini akan dibahas hal-hal yang menyangkut tentang perbedaan kepentingan, prasangka dan diskriminasi, Ethnosentrisme dan stereotype, konflik dalam masyarakat, serta integrasi masyarakat dan nasional. Maka dari itu makalah ini cocok dibaca oleh kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum yang cinta terhadap persatuan dan kesatuan
PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah sosial dasar Dosen Ismail Akbar Brahma Disusun oleh M. kizbudin 53417413 1IA16 FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS GUNADARMA 2018 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah segala rahmatnya sehingga saya bisa menyeesaikan makalah “Pertentangan Sosial dan Integrasi Masyarakat”. Penyusunan makalah ini dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Pengantar Pendidikan. Dengan dibuatnya makalah ini semoga dapat menambah wawasan bagi pembaca agar dapat mengetahui tentang Pertentangan sosial dan in. Makalah ini disusun oleh penulis dengan berbagai hambatan. Baik itu yang datang dari dalam diri penyusun maupun yang datang dari luar. Saya juga menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini. Oleh karena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Jakarta, 03 Januari 2018 Penulis M. Kizbudin DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI.........................................................................ii BAB I PENDAHULUAN.................................................................1 Latar Belakang........................................................1 Rumusan Masalah..................................................2 Tujuan.....................................................................2 BAB II PEMBAHASAN....................................................................3 Perbedaan Kepentingan..........................................3 dan Diskriminasi.....................................4 Ethnosentrisme.......................................................6 Pertentangan Sosial................................................7 Integrasi Sosial Integrasi Masyarakat...................9 Integrasi Nasional..................................................10 BAB III PENUTUP...........................................................................12 Kesimpulan..................................................................12 DAFTAR PUSTAKA...........................................................................13 BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Setiap tingkah laku individu satu dengan individu lain pasti berbeda. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi kepentingannya. Tapi apabila gagal dalam memenuhi kepentingannya akan banyak menimbulkan masalah baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Dan suatu hal yang saling berkaitan, apabila seorang individu mempunyai prasangka dan akan cenderung membuat sikap untuk membeda-bedakan. Maka akan terjadi sikap bahwa kebudayaan dirinya lebih baik daripada kebudayaan orang lain, sehingga timbullah konflik yaitu berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman atau kekerasan. Di dalam kelompok masyarakat Indonesia, konflik dapat disebabkan karena faktor harga diri dan kebanggaan kelompok terusik, adanya perbedaan pendirian atau sikap, perbedaan kebudayaan, benturan kepentingan politik, ekonomi, kekuasaan. Adat kebiasaan dan tradisi yang hidup dalam masyarakat merupakan tali pengikat kesatuan perilaku di dalam masyarakat. Suatu kelompok yang ada dalam keadaan konflik yang berlangsung lama biasanya mengalami disintegrasi. Dan untuk menyelesaikan semua itu melalui integrasi masyarakat. Integrasi dapat berlangsung cepat atau lambat karena dipengaruhi oleh faktor homogenitas kelompok, besar kecilnya kelompok, mobilitas geografis, dan efektifitas komunikasi. Rumusan Masalah 1. Apa saja yang terjadi di dalam masyarakat? 2. Mengapa permasalahan tersebut terjadi 3. Apa yang bisa mengendalikan sehingga masalah tersebut terselesaikan? Ada beberapa tujuan dalam penulisan Tugas Makalah ini, beberapa diantaranya adalah 1. Sebagai pengisi nilai tugas dari mata pelajaran Ilmu Sosial Dasar. 2. Mengetahui masalah apa saja yang terjadi di dalam masyarakat. 3. Mengetahui yang melatarbelakangi permasalahan itu mucul. 4. Masyarakat bisa menghindari terjadinya permasalahan. BAB II PEMBAHASAN Perbedaan Kepentingan Kepentingan merupakan dasar dari timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi kepentinganya, yang bersifat esensial bagi kelangsungan kehidupanya. Jika berhasil aka nada kepuasan dan sebaliknya jika gagal akan banyak menimbulkan masalah baik bagi dirinya sendiri maupun lingkunganya. Perbedaan lingkungan dan pembawaan individu akan menyebabkan perbedaan dalam kepentinganya, yang dapat berupa 1. Kepentingan untuk memperoleh kasih sayang. 2. Kepentingan untuk memperoleh harga diri. 3. Kepentingan untuk memperoleh penghargaan yang sama. 4. Kepentingan untuk memperoleh prestasi dan posisi. 5. Kepentingan untuk dibutuhkan orang lain. 6. Kepentingan untuk mendapatkan kedudukan dalam kelompoknya 7. Kepentingan untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan diri. 8. Kepentingan untuk memperoleh kemerdekaan diri. Cara memandang masyarakat yang dapat menimbulkan pertentangan sosial atau konflik dibedakan menjadi empat, yaitu tinjauan dimensi psikologis, tinjauan ideologis, perbedan kepentingan dan pola hubungan antarkelompok. 1. Secara psikologis, pertentangan sosial dapat dikatakan sebagai refleksi dari kondisi psikis manusia dalam kerangka interaksi sosialnya. Struktur energi psikis manusia terdiri dari id, ego, dan super-ego merupakan proses dinamik individu, dimana sering terjadi pertentangan antara kebutuhan dan keinginan ego dengan norma-norma yang dipegang oleh super-ego. 2. Secara ideologis, pertentangan sosial terjadi manakala kelompok-kelompok kepentingan berhadapan dengan satu kelompok elite penentu yang berusaha untuk menegakan suatu ideologi tertentu. 3. Secara politik, perbedaan kepentingan antar kelompok dapat menimbulkan konflik, melalui dua fase yaitu 1 Dis-organisasi yang terjadi karena kesalah-pahaman akibat pertentangan antara harapan dengan standar normatif yang menyebabkan sulitnya penyesuian diri suatu kelompok dengan norma yang ada. 2 Dis-integrasi konflik, yaitu pernyataan tidak setuju dalam berbagai bentuk seperti timbulnya emosi massa yang meluap, protes, aksi mogok, pemberontakan dan lain-lain. Lima tahapan dis-integrasi adalah sebagai berikut 1 Ketidak-sefahaman anggota kelompok tentang tujuan sosial yang hendak dicapai yang semula menjadi pegangan kelompok. 2 Norma-norma sosial tidak membantu anggota masyarakat lagi dalam mencapai tujuan yang telah disepakati. 3 Norma-norma dalam kelompok dan yang telah dihayati oleh kelompok bertentangan satu dengan yang lainya. 4 Sanksi sudah menjadi lemah, bahkan tidak konsekkuen. 5 Tindakan anggota masyarakat sudah bertentangan dengan norma kelompok. 4. Pola hubungan dan cara pandang antar kelompok sosial. Prasangka dan Diskriminasi Prasangka dan diskriminasi mempunyai dasar pribadi yang mana setiap orang miliki. sejak kecil unsur sikap permusuhan antar manusia sudah nampak. Melalui proses belajar dan semakin banyaknya manusia membuat sikap mereka cenderung membeda-bedakan, dan ini menimbulkan prasangka. Sikap adalah kecenderungan untuk berespons meliputi perasaan atau pandangan, baik secara positif maupun negatif, terhadap orang, objek, atau situasi. Dalam sikap terkandung suatu penilaian emosional yang dapat berupa suka, tidak suka, senang, sedih, cinta, benci, dan sebagainya. Sikap memiliki beberapa komponen, yaitu 1. Kognitif, artinya memiliki pengetahuan mengenai objek, terlepas pengetahuan itu benar atau salah. 2. Afektif, berarti akan selalu mempunyai evaluasi emosional mengenai objek. 3. Konatif, berarti cenderung bertingkah laku bila bertemu dengan objek. Orang yang berprasangka pasti akan bersikap diskriminatif, prasangka menunjuk pada sikap sedangkan diskriminatif menunjuk pada tindakan. Sebagian besar prasangka bersifat apriori, tidak berdasarkan pengalaman sendiri karena merupakan hasil peniruan pola orang lain. Prasangka bisa diartikan sebagai suatu sikap yang terlampau tergesa-gesa, berdasarkan generalisasi yang terlalu cepat, berat sebelah dan dibarengi penyederhanaan terhadap suatu realita, jika prasangka diserati agresivitas dan rasa permusuhan, dan tidak bisa disalurkan secara wajar, biasanya orang akan mencari “kambing hiam” objek untuk melampiaskan segenap frustasi dan rasa-rasa negatif, yang biasanya sasaranya adalah kelompok sosial yang lemah, golongan minoritas atau anggota kelompok luar. Sebab-sebab timbulnya prasangka dan diskriminasi 1. Pendekatan historis dengan latar belakang sejarah. 2. Didasrkan atas teori pertentangan klas, menyalahkan klas rendah yang inferior dan klas atas dianggap memiliki alas an justification untuk berprasangka negative, jelek terhadap klas rendah. 3. Dilatarbelakangi oleh perkembangan sosio-kultural dan situasional. Penyebabnya dibagi menjadi empat, yaitu mobilitas sosial, konflik antar kelompok, stigma perkantoran dan sosialisasi. 4. Bersumber dari faktor kepribadian. 5. Berlatar belakang perbedaan keyakinan, kepercayaan, dan agama, politik, ekonomi, dan ideologi. 6. Pendekatan fenomenologis Ditekankan pada bagaimana individu memandang atau memprespsikan lingkunganya. 7. Pendekatan native. Prasangka ini lebih menyoroti objek prasangka dan tidak menyoroti individu yang berprasangka. Usaha untuk mengurangi / menghilangkan prasangka dan diskriminasi antara lain 1. Perbaikan kondisi sosial ekonomi, 2. Perluasan kepentingan belajar, 3. Sikap terbuka dan lapang, 4. Mengadakan kontak di antara pihak-pihak yang berprasangka, 5. Bermain peran role playing. Ethnosentrisme Setiap suku bangsa atau ras tertentu memiliki ciri khas kebudayaan yang sekaligus menjadi kebanggaannya, suku dan ras tersebut dalam kehidupan sehari-hari akan bertingkah laku sejalan dengan norma-norma, nilai-nilai yang terkandung didalamnya dan menganggap kebudayaan mereka sebagai sesuatu yang prima, riil, logis sesuai dengan kodrat alam dan sebagainya. Segala sesuatu yang dianggap bertentangan akan dianggap tidak baik ini disebut dengan ethnosentrisme, yaitu suatu kecenderungan yang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan sendiri sebagai segala sesuatu yang terbaik. Ethnosentrisme ini dapat menjadi penyebab utama kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Pertentangan Sosial Konflik pertentangan memiliki tiga elemen dasar, yaitu 1. Terdapat dua atau lebih unit yang terlibat dalam konflik. 2. Unit-unit tersebut mempunyai perbedaan yang tajam dalam kebutuhan, tujuan, masalah, nilai, sikap, maupun gagasan-gagasan. 3. Terdapat interaksi diantara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan tersebut. Konflik dapat terjadi di lingkungan yang paling kecil, yaitu individu sampai kepada lingkungan yang luas, yaitu masyarakat. Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dicegah timbulnya. Konflik tidak langsung menimbulkan ketegangan. Konflik dibagi menjadi konflik laten dan konflik manifest. Yaitu konflik yang belum diwujudkan secara terang-terangan karena pertentangan masih dapat dirasionalkan sehingga untuk sementara harapan ego masih dapat diendapkan. Disebut juga konflik overt, yaitu konflik yang ditunjukan secara terang-terangan ini merupakan kelanjutan dari konflik laten yang melibatkan fungsi-fungsi afektif. Konflik yang menimbulkan ketegangan dibagi menjadi konflik mikro diadik dan konflik makro kolektif. 1 3. Konflik mikro diadik Adalah konflik antar individu dan antar kelompok yang lebih banyak ditimbulkan oleh masalah-masalah ekonomi dalam rangka memenuhi kebutuhan dan masalah-masalah yang menyangkut kehormatan dan eksistensi individu dan kelompok. 2 4. Konflik makro kolektif Adalah konflik yang terjadi antar Negara bangsa dalam hubungan internasional. Ini terjadi akibat interaksi antara berbagai kelompok besar yang berkaitan dengan eksistensi kelompok sebagai nation states atau Negara suatu bangsa. Konflik antar bangsa ini biasanya akan lebih cepat menimbulka ketegangan karena dapat menimbulkan emosi massa atau publik yang terlibat. Berbagai bentuk konflik antara kolektivitas-kolektivitas makro antara lain adalah aliansi atau klientasi, konflik bangsa tanpa Negara dan konflik masyarakat majemuk. 1 1. Aliansi dan klientasi Bentuk ketegangan yang disebabkan ketergantungan suatu Negara kepada Negara super power aliansi yang pada umumnya berlaku di bidang ekonomi, politik dan militer. 2 2. Konflik bangsa tanpa Negara Dua bangsa dalam satu Negara yang berbeda ideologi akan cenderung tidak mengakui ekistensi Negara yang didiaminya dan mewujudkan ketidak-pengakuan tersebut dalam bentuk perang saudara. 3 3. Konflik dalam masyarakat majemuk Dalam masyarakat majemuk sering terjadi konflik yang menyebabkan ketegangan, yang timbul karena antarkelompok etnis saling bersaing untuk unggul dalam bidang ekonomi dan politik. Cara pemecahan konflik dapat berupa 1 1. Eliminasi, yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat. 2 2. Dominasi, pihak yang mempunyai kekuatan terbesar memaksa pihak lainya untuk menaatinya. 3 3. Suara terbanyak yang di dapat dari voting tanpa memperhatikan argumentasi. 4 4. Konsen minoritas, kelompok mayoritas yang menang namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan. 5 5. Kompromi, semua pihak berusaha mencari jalan tengah. 6 6. Integrasi, pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan, di timbang dan ditelaah kembali sampai di capai keputusan yang memuaskan semua pihak. Integrasi Sosial Integrasi Masyarakat Integrasi adalah suatu proses dan hasil kehidupan sosial dan merupakan alat yang bertujuan untuk mengadakan suatu keadaan kebudayaan yang homogen. Integrasi sosial Integrasi Masyarakat diartikan adanya kerjasama dari seluruh angota masyarakat. Integrasi sebagai suatu proses membutuhkan waktu yang relatif lama karena pada prinsipnya integrasi merupakan bentuk penunjukan sikap terhadap suatu keadaan. Integrasi adalah proses mental dalam pembentukan atau penentuan sikap dimana seseorang akan mengikuti tahapan aspek-aspek sikap yaitu Yaitu sikap yang berhubungan dengan gejala mengenal alam pikiran yang berwujud pengolahan, pengalaman dan keyakinan serta harapan-harapan individu tentang kelompok obyek tertentu. Berwujud proses yang menyangkut perasaan-perasaan tertentu seperti simpati, antipasti, takut, benci, dan sebagainya yang ditujukan pada objek tertentu. Yang berwujud kecenderungan untuk berbuat sesuatu terhadap objek. Sehubungan dengan proses dan aspek mental tersebut maka dalam rangka integrasi dibutuhkan pemahaman dan penghayatan mewarnai pola pikir dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Proses sosialisasi sebagai penunjang proses integrasi merupakan proses aktif untuk mempelajari nilai-nilai, mengadakan penyesuaian-penyesuaian dengan lingkungan serta menimba pengalaman mental . integrasi sebagai proses pasif berusaha menyerap individu-individu dalam satu kelompok sebagai hasil atau tepatnya akibat dari proses sosialisasi tersebut. Langkah pertama menuju integrasi yang dihasilkan oleh sosialisasi adalah adanya kesediaan untuk bekerja sama untuk kepentingan yang sama, dan langkah selanjutnya adalah kesediaan bekerja sama untuk tujuan bersama. Integrasi Nasional Integrasi nasional merupakan masalah yang dialami oleh semua negara yang ada di dunia. Yang berbeda adalah bentuk permasalahan yang dihadapi. Bebrapa permasalahan integrasi nasional antara lain 1. Adanya cara pandang yang berbeda tentang pola laku duniawi dan cara untuk mencapai tujuan, yang bersumber dari perbedaan ideologi karena perbedaan falsafah hidup. 2. Kondisi masyarakat yang majemuk 3. Masalah territorial daerah yang seringkali berjarak cukup jauh. 4. Kehidupan dan pertumbuhan partai politik. Indikator pertentangan politik di Indonesia misalnya terjadinya demonstrasi, kerusuhan, serangan bersenjata, meningkatnya angka kematian akibat kekerasan politik, pemindahan kekuasaan eksekutif yang bersifat ir-reguler, Untuk memperkecil dan kalau mungkin menghilangkan kesenjangan-kesenjangan itu antara lain diupayakan dengan cara 1. Mempertebal keyakinan seluruh warga Negara yang terdiri dari berbagai golongan terhadap ideology nasional 2. Berusaha membuka isolasi antar berbagai kelompok, etnis antar daerah / pulau dengan pembangunan sarana komunikasi, infrastruktur, dan transportasi. 3. Menggali kebudayaan daerah untuk dijadikan kebudayaan nasional dan membina penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. 4. Membentuk jaringan asimilasi bagi berbagai kelompok etnis baik pribumi maupun keturunan asing, antara lain dengan transmigrasi, mutasi karyawan lintas dinas dan lain-lain. 5. Melalui jalur-jalur formal seperti pendidikan perundang-undangan yang berlaku bagi seluruh warga Negara. Integrasi nasional sebagai suatu cita-cita nasional maupun cita-cita Negara dapat terwujud atau paling tidak menekan kemungkinan permasalahan yang timbul dengan berbagai usaha yang mendukung potensi masyarakat untuk berintegrasi sendiri secara alamiah dengan system cross cutting affiliation dan dengan memperkuat kedudukan ideologi nasional sebagai hasil galian dari akar budaya masyarakat yang heterogen yang mampu mengkristalisasikan nilai-nilai budaya yang memiliki kandungan makna universal, yang mampu memberikan harapan pada berbagai kelompok yang ada, ideologi tersebut harus fleksibel dalam arti mampu menyesuaikan diri dengan pertumbuhan masyarakat serta mampu mempengaruhi masyarakat dalam segala kegiatanya. BAB III PENUTUP Kesimpulan Pertentangan sosial ataupun konflik adalah salah satu konsekuensi dari adanya perbedaan-perbedaan dan tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat misalnya peluang hidup, gengsi, hak istimewa, dan gaya hidup. Etnosentrisme merupakan sikap untuk menilai unsur-unsur kebudayaan orang lain dengan menggunakan ukuran-ukuran kebudayaan sendiri. Dan diajarkan kepada anggota kelompok secara sadar atau tidak, bersama-sama dengan nilai kebudayaan. Integrasi Nasional adalah penyatuan bagian-bagian yang berbeda dari suatu masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh atau memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa. Setiap tingkah laku individu satu dengan individu lain pasti berbeda. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi kepentingannya. Tapi apabila gagal dalam memenuhi kepentingannya akan banyak menimbulkan masalah baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. DAFTAR PUSTAKA - Hanafie, Sri Rahaju Rita. 2016. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta CV Andi Offset.
PERTENTANGANSOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT KATA PENGANTAR Segala puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas limpahan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas yang berjudul "Pertentangan-Pertentangan Sosial dan Integrasi Masyarakat" ini dengan baik dan lancar. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah IAD, IBD dan ISD.
viimasyarakat multikultural michoola michoo, masalah keanekaragaman sosial dalam masyarakat, masyarakat multikultural sekolah, kelompok sosial dan masyarakat multikultural, keanekaragaman kelompok sosial dalam masyarakat, pengetahuan sosial masyarakat multikultural, cara alternatif pemecahan masalah yang ditimbulkan oleh 1 / 10
Padakondisi-kondisi tertentu hubungan antara masyarakat diwarnai berbagai persamaan. Namun sering juga didapati perbedaan-perbedaan, bahkan pertentangan dalam masyarakat. Hal-hal seperti itulah yang menimbulkan perpecahan dalam masyarakat. Salah satu contohnya adalah Pertentangan sosial dan integrita masyarakat
Puji syukur kami mengucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul "Pertentangan Masyarakat dan Integrasi Masyarakat". Penyusunan ini merupakan salah satu tugas dalam mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar Universitas Pekalongan. Dalam penulisan ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada 4. Mengadakan kontak di antara pihak-pihak yang berprasangka.
MakalahIlmu Sosial Dasar. Oleh : RADO HT SIMARMATA ( 55412873 ) 1IA13. PROGRAM STUDI ILMU SOSIAL DASAR. JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI. UNIVERSITAS GUNADARMA. 2012. PERTENTANGAN SOSIAL dan INTEGRASI MASYARAKAT. A. Pertentangan Sosial dan Integrasi Masyarakat.
MAKALAH ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR ISBD PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT Tugas ini dibuat Untuk memenuhi Tugas Ilmu Sosial Budaya dasar ISBD Yang dibina Oleh Ibu,Emilda Marta, Disusun Oleh BERRI ANAM UNIVERSITAS ISLAM MADURA UIM FAKULTAS TEKNIK SISTEM INFORMASI 2012 KATA PENGANTAR Segala puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas limpahan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas yang berjudul “Pertentangan-Pertentangan Sosial dan Integrasi Masyarakat” ini dengan baik dan lancar. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ISBD. Dalam makalah ini akan dibahas hal-hal yang menyangkut tentang perbedaan kepentingan, prasangka dan diskriminasi, Ethnosentrisme dan stereotype, konflik dalam masyarakat, serta integrasi masyarakat dan nasional. Maka dari itu makalah ini cocok dibaca oleh kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum yang cinta terhadap persatuan dan kesatuan sebagai warga negara Indonesia. Saya juga menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak luput dari kekurangan. Oleh sebab itu saya sangat berharap dapat menerima kritik dan saran dari semua pihak untuk kesempurnaan makalah-makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Amin…. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap tingkah laku individu satu dengan individu lain pasti berbeda. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi kepentingannya. Tapi apabila gagal dalam memenuhi kepentingannya akan banyak menimbulkan masalah baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Dan suatu hal yang saling berkaitan, apabila seorang individu mempunyai prasangka dan akan cenderung membuat sikap untuk membeda-bedakan. Maka akan terjadi sikap bahwa kebudayaan dirinya lebih baik daripada kebudayaan orang lain, sehingga timbullah konflik yaitu berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman atau kekerasan. Di dalam kelompok masyarakat Indonesia, konflik dapat disebabkan karena faktor harga diri dan kebanggaan kelompok terusik, adanya perbedaan pendirian atau sikap, perbedaan kebudayaan, benturan kepentingan politik, ekonomi, kekuasaan. Adat kebiasaan dan tradisi yang hidup dalam masyarakat merupakan tali pengikat kesatuan perilaku di dalam masyarakat. Suatu kelompok yang ada dalam keadaan konflik yang berlangsung lama biasanya mengalami disintegrasi. Dan untuk menyelesaikan semua itu melalui integrasi masyarakat. Integrasi dapat berlangsung cepat atau lambat karena dipengaruhi oleh faktor homogenitas kelompok, besar kecilnya kelompok, mobilitas geografis, dan efektifitas komunikasi. B. Rumusan Masalah 1. Apa saja yang terjadi di dalam masyarakat? 2. Mengapa permasalahan itu terjadi? 3. Apa yang bisa mengendalikan sehingga permasalahan bisa selesai? C. Tujuan Pembahasan 1. Mengetahui masalah apa saja yang terjadi di dalam masyarakat. 2. Mengetahui yang melatarbelakangi permasalahan itu muncul. 3. Masyarakat bisa menghindari terjadinya permasalahan. BAB II PEMBAHASAN A. Pertentangan Sosial dan Integrasi Masyarakat Hidup bermasyarakat yaitu sebuah hubungan antar individu-individu maupun antar kelompok dan golongan yang terjadi dalam proses kehidupan. Hidup bermasyarakat juga berarti kehidupan dinamis, dimana setiap anggota masyarakat salaing berinteraksi. Hubungan antar individu ini pun diikat oleh ikatan yang berupa norma serta nilai-nilai yang telah dibuat bersama para anggota. Norma dan nilai-nilai inilah yang menjadi alat pengendali agar para anggota masyarakat tidak terlepas dari rel ketentuan yang telah disepakati itu. Solidaritas, toleransi dan tenggang rasa adalah bukti kuatnya ikatan itu. Sakit salah satu anggota masyarakat akan dirasakan oleh anggota masyarakat lainnya. Dari hubungan seperti itulah lahir keharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Pada kenyataannya tidak semua masyarakat membentuk sebuah harmonisasi. Pada kondisi-kondisi tertentu hubungan antara masyarakat diwarnai berbagai persamaan. Namun sering juga didapati perbedaan-perbedaan, bahkan pertentangan dalam masyarakat. Hal-hal seperti itulah yang menimbulkan perpecahan dalam masyarakat. Salah satu contohnya adalah Pertentangan sosial dan integrita masyarakat pertentang sosial menurut saya adalah suatu konflik yang terjadi didalam suatu lingkungan masyarakat. Dimana ada suatu kelompok yang tidak menyukai kelompok lain, sehingga menimbulkan suatu perselisihan diantara mereka. Banyak sekali pertentangan sosial yang terjadi di Dunia ini. Seperti contohnya perak Irak yang kunjung selesai, dan kalau menusuri indonesia contohnya GAM Gerakan Aceh Merdeka, yang terjadi di Papua. Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pertentangan sosial Rasa Iri antara individu,negara, dan masyarakat 2. Adanya rasa tidak puas masyarakat terhadap kepemerintahan 3. Banyak adu domba antara politik,agama,suku serta budaya Integrasi Masyarakat Integrasi berasal dari bahasa inggris “integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi. Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan. Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya. Menurut pandangan para penganut fungsionalisme struktur sistem sosial senantiasa terintegrasi di atas dua landasan berikut Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus kesepakatan di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental mendasar Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial cross-cutting affiliation. Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda cross-cutting loyalities dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial. Penganut konflik berpendapat bahwa masyarakat terintegtrasi atas paksaan dan karena adanya saling ketergantungan di antara berbagai kelompok. Integrasi sosial akan terbentuk apabila sebagian besar masyarakat memiliki kesepakatan tentang batas-batas teritorial, nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata sosial A. Faktor Internal kesadaran diri sebagai makhluk sosial tuntutan kebutuhan jiwa dan semangat gotong royong B. Faktor External tuntutan perkembangan zaman persamaan kebudayaan terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama persaman visi, misi, dan tujuan sikap toleransi adanya kosensus nilai adanya tantangan dari luar B. Perbedaan Kepentingan Kepentingan merupakan dasar timbulnya tingkah laku individu. Tingkah laku individu merupakan cara atau alat dalam memenuhi kepentingannya. Ada 2 jenis kepentingan dalam diri individu yaitu kepentingan untuk memenuhi kebutuhan biologis dan sosial/psikologis. Perbedaan kepentingan itu antara lain 1. Kepentingan individu untuk memperoleh kasih sayang. 2. Kepentingan individu untuk memperoleh harga diri. 3. Kepentingan individu untuk memperoleh penghargaan yang sama. 4. Kepentingan individu untuk memperoleh potensi dan posisi. 5. Kepentingan individu untuk membutuhkan orang lain. 6. Kepentingan individu untuk memperoleh kedudukan di dalam kelompoknya. 7. Kepentingan individu untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan diri. 8. Kepentingan individu untuk memperoleh kemerdekaan diri C. Prasangka dan Diskriminasi Prasangka dan diskriminasi dua hal yang ada relevansinya. Kedua tindakan tersebut dapat merugikan pertumbuhan, perkembangan, dan bahkan integrasi masyarakat. Kerugian prasangka melalui hubungan pribadi dan akan menjalar bahkan melembaga turun-temurun. Jadi prasangka dasarnya pribadi dan dimiliki bersama. Perbedaan terpokok antara prasangka dan diskriminatif adalah prasangka menunjukkan pada aspek sikap, sedangkan diskriminatif pada tindakan. Sikap adalah kecenderungan untuk berespons baik secara positif atau negatif terhadap orang, obyek atau situasi. Dalam konteks realitas, prasangka diartikan “Suatu sikap terhadap anggota kelompok etnis atau ras tertentu, yang terbentuk terlalu cepat tanpa suatu induksi. Diskriminatif merupakan tindakan yang realistis”. Dapat disimpulkan bahwa prasangka itu muncul sebagai akibat kurangnya pengetahuan, pengertian dan fakta kehidupan, adanya dominasi kepentingan golongan atau pribadi, dan tidak menyadari atau insyaf akan kerugian yang bakal terjadi. Tingkat prasangka itu menumbuhkan jarak sosial tertentu di antara anggota sendiri dengan anggota kelompok luar. Sebab-sebab terjadinya prasangka 1. Pendekatan Historis Pendekatan ini berdasarkan teori pertentangan kelas, menyalahkan kelas rendah di mana mereka yang tergolong kelas atas mempunyai alasan untuk berprasangka terhadap kelas rendah 2. Pendekatan Sosiokultural dan Situasional a. Mobilitas sosial gerak perpindahan dari strata satu ke strata sosial lainnya. Artinya kelompok orang yang mengalami penurunan status akan terus mencari alasan mengenai nasib buruknya. b. Konflik antara kelompok prasangka sebagai realitas dari dua kelompok yang bersaing. c. Stagma perkantoran ketidakamanan atau ketidakpastian di kota disebabkan oleh “noda” yang dilakukan oleh kelompok tertentu. d. Sosialisasi prasangka muncul sebagai hasil dari proses pendidikan, melalui proses sosialisasi mulai kecil hingga dewasa. 3. Pendekatan Kepribadian Teori ini menekankan pada faktor kepribadian sebagai penyebab prasangka, disebut dengan frustasi agresi. Menurut teori ini keadaan frustasi merupakan kondisi yang cukup untuk timbulnya tingkah laku agresif. 4. Pendekatan Fenomenologis Pendekatan ini ditekankan pada bagian individu memandang atau mempersepsikan lingkungannya, sehingga persepsilah yang menyebabkan prasangka. 5. Pendekatan Naïve Bahwa prasangka lebih menyoroti obyek prasangka tidak menyoroti individu yang berprasangka. Prasangka bisa diartikan sebagai suatu sikap yang terlampau tergesa-gesa berdasarkan generalisasi yang terlampau cepat, sifat berat sebelah dan dibarengi proses simplifikasi terlalu menyederhanakan terhadap suatu realita. Sikap berprasangka jelas tidak adil, sebab sikap yang diambil hanya berdasarkan pada pengalaman atau apa yang di dengar. D. Etnhosentrisme Stereotype Ethnosentrisme yaitu sikap untuk menilai unsur-unsur kebudayaan orang lain dengan mempergunakan ukuran-ukuran kebudayaan sendiri. Sikap ini dianggap bahwa kebudayaan dirinya lebih unggul dari kebudayaan lainnya. Stereotype yaitu gambaran dan ajakan ejek. Stereotype diartikan sebagai tanggapan mengenai sifat-sifat dan waktu pribadi orang atau golongan lain yang bercorak negatif sebagai akibat tidak lengkapnya informasi dan sifatnya yang subyektif E. Konflik dalam Masyarakat Konflik merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya, misal kebencian atau permusuhan. Konflik dapat terjadi pada lingkungan yang paling kecil yaitu individu sampai kepada lingkup yang luas, yakni masyarakat 1. Pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk pada adanya pertentangan atau emosi-emosi dan dorongan-dorongan antagonistic di dalam diri seseorang. 2. Pada taraf kelompok, konflik-konflik ditimbulkan dari konflik-konflik yang terjadi dalam diri individu dari perbedaan-perbedaan anggota kelompok dalam tujuan, nilai, norma serta minat untuk menjadi anggota kelompok. 3. Pada taraf masyarakat, konflik bersumber pada perbedaan nilai dan norma kelompok dengan nilai dan norma kelompok lain. Tipe konflik ini timbul dari proses-proses yang tidak rasional dan emosional dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Upaya untuk memecahkan konflik selalu timbul selama berlangsungnya kehidupan suatu kelompok, namun terdapat perbedaan-perbedaan di dalam sifat dan intensitas konflik pada berbagai tahap perkembangan kelompok. Adapun cara-cara pemecahan konflik sebagai berikut 1. Elimination Pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat di dalam konflik. 2. Subjugation atau Domination Orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa orang atau pihak lain untuk mentaatinya. 3. Majority Rule Suara terbanyak yang ditentukan dengan voting, akan menentukan keputusan, tanpa mempertimbangkan argumentasi. 4. Minority Consent Kelompok mayoritas yang menang, namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan, dan menerima keputusan serta sepakat untuk melakukan kegiatan bersama. 5. Compromise Kompromi Kedua atau semua sub kelompok yang terlibat di dalam konflik, berusaha mencari dan mendapatkan jalan tengah. 6. Integration Pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan, dan ditelaah kembali sampai kelompok mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak. Usaha-usaha untuk menghindari perbedaan-perbedaan dan untuk memendam konflik-konflik, tidak pernah berhasil dalam waktu yang lama. Kesatupaduan di dalam perbedaan-perbedaan merupakan suatu nilai yang menghargai perbedaan, yang menggunakan perbedaan-perbedaan tersebut untuk memperkuat kelompok. F. Integrasi Masyarakat dan Nasional Integrasi masyarakat dapat diartikan adanya kerjasama dari seluruh anggota masyarakat, mulai dari individu, keluarga, lembaga-lembaga, dan masyarakat secara keseluruhan Integrasi masyarakat akan terwujud apabila mampu mengendalikan prasangka yang ada di dalam masyarakat, sehingga tidak terjadi konflik. Dalam memahami integrasi masyarakat, kita juga mengenal integrasi nasional, yaitu organisasi-organisasi formal yang melalui mana masyarakat menjalankan keputusan-keputusan yang berwenang. Untuk terciptanya integrasi nasional, perlu adanya suatu jiwa, asas spiritual, solidaritas yang besar. Perlu dicari bentuk-bentuk akomodatif yang dapat mengurangi konflik sebagai akibat dari prasangka, yaitu melalui 4 sistemss 1. Sistem budaya seperti nilai-nilai Pancasila dan UUD 45. 2. Sistem sosial seperti kolektiva-kolektiva sosial dalam segala bidang. 3. Sistem kepribadian yang terwujud sebagai pola-pola penglihatan, perasaan, pola-pola penilaian yang dianggap pola keindonesiaan. 4. Sistem organik jasmaniah, di mana nasion tidak didasarkan atas persamaan ras. Untuk mengurangi prasangka ke-4 sistem itu harus dibina, dikembangkan dan memperkuatnya sehingga perwujudan nasion Indonesia tercapai. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Di setiap masyarakat pasti muncul pertentangan-pertentangan atau permasalahan permasalahan, di antaranya 1. Perbedaan Kepentingan ada 2 kepentingan dalam diri individu, yakni kepentingan biologis dan kepentingan sosial/psikologis. 2. Prasangka dan Diskriminatif prasangka yang menunjukkan aspek sikap sedangkan diskriminatif pada tindakan. 3. Ethnosentrisme dan StereotypeEthnosentrisme kebudayaan dirinya lebih unggul dari kebudayaan lainnya. 4. Stereotype gambaran dan anggapan jelek. 5. Konflik dalam kelompok Suatu tingkah laku yang dibedakan emosi tertentu yang sering dihubungkan dengannya. Cara pengendalian dari permasalahan-permasalahan di atas, yaitu melalui integrasi masyarakat dan nasional, yang mengandung pengertian 1. Integrasi Masyarakat adanya kerjasama dari seluruh anggota masyarakat. 2. Integrasi Nasional organisasi-organisasi formal melalui mana masyarakat menjalankan keputusan-keputusan yang berwenang. B. Saran Makalah yang ditulis ini tentunya sangat jauh dari nilai kesempurnaan. Meskipun demikian penulis tetap menyarankan kepada para pembaca, agar dalam menjalani kehidupan sehari-hari selalu melihat konflik maupun pertentangan-pertentangan yang bersumber dari perbedaan secara logis dan realistis, sehingga tidak menimbulkan konflik yang lebih besar yang dapat mengarahkan kita pada perpecahan dalam berbangsa. Semoga makalah yang sederhana ini memiliki manfaat bagi penulis khususnya dan seluruh pembaca pada umumnya.
Σሥзы υт
Брел слխφашቯ оδиκ тոτըноч
Кεջасоሼኣ θ
Ыпаዌոсኄ цθпс саδιч ωዜ
Атроዐас чէрсиху
ዋт ταмули шυщ
Οχиδ е շеτը
Θሲ νижሷጁаኙωк մуноኘи у
Зεւιδυсич καнፆвсеሊαይ
Зፄпс эзα иծаցωбуኛጷ
Люጹէτулըፏ ацецεηоли
Ըቫ ψωсота ፍκυсիху
Ծувըшεтуփጃ жуφև
ዚлը иծևчኄл ሉзвጼկюλуч չωрюбիже
Отомθвр усли հቿሾօ
Ктυχθсточ ዝрեμулощ ቶοсυщибр խ
Մաщакр нуչቬтуկεй ра
ኮоቧабрοնጢቴ иκу иχюւի
ቢоπոхр ичуፃ
Аրուβէ зваዉо
PertentanganSosial/Ketegangan dalam Masyarakat Konflik (pertentangan) memiliki tiga elemen dasar, yaitu : 1. Terdapat dua atau lebih unit yang terlibat dalam konflik. f2.
PERTENTANGANSOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT. Pertentangan pada masyarakat mengandung pengertian suatu tingkah laku pada setiap individu di dalam sebuah ruang lingkup daerah. Dasar pada sebuah konflik memiliki elemen yang berbeda-beda. Terdapat 3 elemen dasar yang merupakan cirri-ciri dari situasi konflik yaitu :
Download Free DOCXDownload Free PDFpertentangan-pertentangan sosial dan integritaspertentangan-pertentangan sosial dan integritaspertentangan-pertentangan sosial dan integritaspertentangan-pertentangan sosial dan integritasDzhulqarnain Dzhulqarnainpertentangan-pertentangan sosial dan integritas
Integrasisosial (integrasi masyarakat) dapat diartikan adanya kerjasama dari seluruh anggota masyarakat, mulai dari individu, keluarga, lembaga dan masyarakat secara keseluruhan sehingga menghasilkan persenyawaan-persenyawaan berupa adanya konsesus nilai-nilai yang sama-sama dijunjung tinggi. E. Integrasi Nasional